oleh

Sarung, Warnai Peringatan Hari Sumpah Pemuda di Purwakarta

PURWAKARTA – Peringatan Hari Sumpah Pemuda ke 8 8 tingkat Kabupaten Purwakarta di Taman Pancawama Bale Paseban Pendopo Purwakarta terasa berbeda. Pasalnya, Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang bertindak langsung selaku Inspektur Upacara tampil dengan mengenakan sarung dan peci hitam.

Bahkan, bukan hanya Bupati, seluruh peserta yang mengikuti pacara tersebut turut pula mengenakan kain sarung dan peci hitam untuk laki-laki dan pakaian etnik untuk perempuan, Pasukan Pengibar Bendera pun tambil dengan mengenakan pakaian pengantin khas Sunda.

“Kali ini berbeda, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda kita memulai untuk mengenakan kain sarung dan peci hitam setiap hari Jum’at bagi seluruh pegawai dan pelajar di Kabupaten Purwakarta”. Kata Dedi dalam Amanat Sumpah Pemuda yang ia sampaikan.

Menurut Dedi, spirit penggunaan kain sarung setara dengan spirit pemuda dalam peristiwa Sumpah Pemuda Tahun 1928. Sarung sebagai nafas kultur nusantara menurut dia sej alan dengan spirit penyatuan nusantara yang tercantum dalam butir­butir Ikrar Sumpah Pemuda.

“Sarung itu identitas bangsa Indonesia, sementara para pemuda saat itu mengikrarkan persatuan nusantara dibawah panji Keindonesiaan dalam kondisi kultur daerah di nusantara yang berbeda-beda, spirit persatuannya,” kata Dedi menambahkan.

Dedi pun memaknai bahwa Sumpah Pemuda bukan semata gerakan untuk para pemuda saj a. Lebih dari itu, katanya pemuda telah mampu mempersatukan bangsa bahkan berhasil membangkitkan semangat kreatifitas.
“Maka saya akan terns mendorong kreatifitas, untuk para pelajar, untuk seluruh masyarakat. Momentum sumpah pemuda adalah momentum persatuan bagi kita,” pungkas Dedi.
Kebijakan penggunaan kain sarung sendiri dicanangkan oleh Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi saat membuka Kegiatan Peringatan Hari Santri Nasional di Taman Pesanggrahan Padjadj aran.

http://maseblogger.blogspot.com/

Facebook Comments Box

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed