oleh

Banyak Masyarakat Yang Belum Paham Tata Kelola Lahan

KBB-Kawasan Kabupaten Bandung Barat (KBB) merupakan kawasan paling rawan longsor. Hal tersebut berdasarkan Peta Kerentanan Gerakan Tanah Badan Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (BVMBG). Namun sayang, masih banyak warga KBB yang belum paham tentang tata kelola lahan.

“Buktinya, masih banyak masyarakat yang menanam tanaman palawija dan sayuran di dataran tinggi. Pasalnya, tata kelola lahan yang salah menjadi penyebab becana longsor,” Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerag (BPBD) Kabupaten Bandung Barat, Roni Rudiana kepada wartawan belum lama ini.

Roni menyebutkan, kejadian longsor sejak Januari hingga Oktober 2014, sedikitnya ada 383 bencana longsor yang menewaskan setidaknya tiga orang. Bahkan pada 2012 lalu, bencana di Desa Mukapayung Kecamatan Cililin menjadi bencana terbesar sepanjang sejarah KBB dengan korban tewas mencapai 17 jiwa.

“Kebanyakan, longsor di KBB terjadi pada bulan Januari saat intensitas hujan meningkat,” Dikatakannya, peta tersebut membagi wilayah KBB ke dalam empat zonasi warna, hijau (kerentanan sangat rendah), biru (kerentanan rendah), kuning (kerentatan sedang), dan merah (kerentanan tinggi). Kecamatan, Cililin, Gununghalu, Sindangkerta, Saguling, dan Cipongkor berada di zona merah atau kerentanan gerakan tinggi termasuk Kecamatan Lembang.

“Dari data yang diterima, longsor yang murni karena pergerakan tanah baru dua kali terjadi, yakni di Mukapayung Cililin dan Cipatat. Selebihnya, longsor disebabkan faktor land use atau kesalahan tata guna lahan,” paparnya.. Ferry/Andri

Facebook Comments Box

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed